Bang Ipulisme…

” ndut, bang ipul bikin heboh ma Kiki Fatmala!!”
“Kenapa mangnya?”
“Dia remes @#$%$# si kiki,,,huakaka,,tampang aja alim”

Akhir-akhir ini acara favorit tiap pagi jam 7 selalu berisi berita pasangan Dewi Persik ma Bang Ipul bikin saya jengah untuk ngikutin perkembangan berita ibu kota. Karena itu sewaktu cungkring heboh berita si Bang Ipul saya jadi penasaran juga. Saat terjadi kasus pelecehan seperti ini, penilain terhadap benar dan salah menjadi buram batasnya. Apakan ini salah Kiki Fatmala yang dengan image nya sebagai “artis sex” membuat dia terkesan sebagai sosok yang gampang diperlakukan kurang terhormat, atau salah si bang ipul yang kurang bisa mengendalikan kenakalan tangannya.

Pelecehan sekecil apapun bentuknya merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Budaya ketimuran yang membuat kita menjadi “kurang vokal” dalam mengemukakan pendapat dan pikiran, terutama karena perasaan “sungkan” atau takut menyakiti orang lain, bahkan kadang kala tindak pelecehan ini menjadi hal yang lumrah untuk dimaafkan. Namun kita harus bisa membedakan mana yang lumrah dimaafkan, mana yang harus diberi tindakan lebih lanjut.

Entah karena budaya atau apa, yang menjadi masalah, kadang korban pelecehan ga mau melaporkan kepada pihak yang berwajib. Melaporkan tindak pelecehan yang terjadi malah dianggap membuka aib. Yang malu bukannya si pelaku malah si korban. Mungkin ini juga terkait dengan kurang kuatnya undang-undang terkait dengan masalah pelecehan ini. Kadang orang jadi malas melapor karena malas dengan urusan pelaporan yang berbelit-belit. Kalau sudah membawa masalah Undang-Undang, nothing we can do except choosing the right legislative candidate who can convey our aspirations.

“Pelecehan bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa bersifat fisik atau mental. Bisa dalam bentuk verbal atau non verbal yang kesemuanya ini bisa mengganggu aspek mental, emosional dan spiritual korban.”

Jangan mau menjadi pihak yang gampang dilecehkan, apalagi jadi orang yang melecehkan. Cuma kadang kita ga sadar sudah melakukan tindakan pelecehan.Misalnya kebiasaan buat “bullying”. Karena sudah akrab, saya biasa memanggil teman-teman dengan sebutan dudul, cungkring, si jelek, si kambing dan masih banyak lagi. Misalnya mereka tersinggung? ya sah saja mereka melakukan pelaporan tindak pelecehan, pencemaran nama baik kalau artis-artis bilang. Atau saat sedang jalan dan ada orang yang suit-suit, buat saya itu sudah termasuk dalam tindakan pelecehan. Kalau kalian termasuk golongan itu, jangan salahkan jika kalian dianggap sebagai golongan kuli bangunan.

Try to Stop doing harassment with more respect other people!!

You can leave a response, or trackback from your own site.

22 Responses to “Bang Ipulisme…”

  1. Mohamad Eko says:

    waah km jg pelecehan tuch sama org yg krj nya jd kuli bangunan…
    kasian kan mereka d cap jelek gt…
    ustadz jg ada yg jd kuli bangunan&di anatara mereka bnyk yg g sk suit2 klo ada cw lwt…

    sebnrnya sebuah pelecehan sexual itu krn bkn saja PURE keslhan org yg melakukan pelecehan,,tetapi kadang ada kesalahan dr org yg terlecehkan jg…

    contoh:
    saat dada dewi persik ada yg pegang saat dia di wawancara…
    Km tau knp org itu iseng TOUCH tuch Dada???
    y gmn g pngen pegang,,org yg pnya Dada aja ky yg ngobral gt…so sdkt wajar dunk org begitu…

    inget y…di akhirat nnt kaum Hawa yg lbh bnyk yg msk (H**L) drpd kaum Adam, itu krn merek tdk bs menjaga Anugerah yg Allah berikan…

    jd sebenernya Qt g bs menyalahkan cm dr 1 sisi aja…Qt tuch hrs bs sama2 berintrospeksi dir…
    yg jd korban…knp ya gw ko bs jd korban…
    yg melakukan…gw ne pnya moral apa ga sich lakuin hal ky gt…

    tuch Mba dah aQ ksh comment…
    nyambung ngga nya…
    MENEKETEHE…
    wkwkwkwkwkw…
    eh lp jgn ngakak…
    hihihihihihihihihi…

  2. Arie Wicaksono says:

    Wujud dari pergeseran moral dalam masyarakat Indonesia, budaya saling menghormati dan menghargai sudah terkikis, budaya menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita/perempuan pun sudah terkikis, ini adalah salah satu gambaran dimana budaya ketimuran telah terkikis oleh globalisasi dan betapa jejaring televisi, internet dan lainnya telah berkembang secara “kebablasan”, semua dianggap biasa, semua dianggap normal, semua dianggap wajar.
    suka atau tidak, tayangan-tayangan di televisi yang tidak bernilai sudah sedemikian merasuk kedalam kehidupan masyarakat sehari-hari, ini dalam opini saya ya, ketika kita melihat bahwa di TV adalah hal biasa seorang pria yang tiba-tiba matanya “melotot” ketika melihat perempuan yang berpakaian model minimalis (minim bahan, dan banyak memperlihatkan lekuk bahkan bagian-bagian tubuh tertentu), bahkan kadang di tampilkan si pria sampai menjulurkan lidahnya, seperti kucing yang melihat ikan asin, lalu kemudian tindakan-tindakan semacam ini dianggap sebagai suatu kewajaran, suatu hal yang dapat dimaklumkan, maka dengan demikian resmi sudah bahwa bangsa kita kehilangan sebagian dari moralnya. belum lagi di beberapa tayangan yang menunjukkan perempuan yang di “colak-colek” oleh laki-laki yang ditemuinya, lalu reaksi si perempuan adalah senyam-senyum, apa betul seperti itu reaksi riil dalam kehidupan?? tayangan-tayangan tidak bertanggung jawab dalam dunia pertelevisian telah merubah pola berfikir dan pola bermasyarakat dalam kehidupan sehari-hari, lalu, apakah tindakan seperti demikian dapat dibenarkan?? jawabannya adalah TIDAK!! tindakan pelecehan maupun perbuatan tidak menyenangkan terhadap seseorang tidak dibenarkan secara hukum, dan itu jelas tertuang dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan jelas TIDAK DIBENARKAN secara agama.
    Solusi untuk mengatasi maupun mengantisipasi hal-hal seperti tersebut diatas adalah dengan memperkuat iman keyakinan tiap individu masyarakat, kemudian dengan kembali berpegang pada budaya ketimuran yang tidak vulgar, bisa menghargai sesama dan tidak “celamitan” baik otak, mulut, maupun tangan atau anggota tubuh yang lain.
    Pemerintah juga seharusnya lebih bisa menegakkan hukum dengan memberikan sanksi yang tegas sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku sehingga para pelaku kegiatan iseng yang digambarkan sebagai golongan “kuli bangunan” (walaupun saya pribadi selaku bagian dari kuli bangunan kurang setuju dengan penggolongan ini) jera dan tidak lagi melancarkan aksi TOLOLnya tersebut.

  3. mbelGedez™ says:

    .
    Nggelar tiker, siyap-siyap nunggu kuli bangunan marah-marah di sinih….

    :mrgreen:

  4. admin says:

    bukan pelecehan, cuma tingkah tingkah seperti itu lebih dimaklumi kalau yang melakukan adalah kuli bangunan…buat yang ga ngelakuin..ya peace wae atuh..hehehe

  5. Arif Giyanto says:

    Komen…. Hehe….

  6. admin says:

    Pemerintah juga seharusnya lebih bisa menegakkan hukum dengan memberikan sanksi yang tegas sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku sehingga para pelaku kegiatan iseng yang digambarkan sebagai golongan “kuli bangunan”

    wakil rakyat..seharusnya merakyat…jangan tidur waktu rapat soal rakyat…..

  7. admin says:

    Komen…. Hehe….

    wehehehe..omongan di faceboook kok beda ama disini..jago kandang ney….

  8. gempur says:

    saya bukan kuli bangunan loh! hehehehehe.. saya mandornya :D

  9. Arif Giyanto says:

    Aku usul, mending kamu nulis soal arsitektur. Aku bakal berbusa-busa komentarnya. Busa sofa, busa rifah, busana. Banyak deh….

  10. fandi88 says:

    Haduwh di tipi udah eneg ama yg namanya saipul jamil vs dewi persik n’ seantero berita menjijikan lainnya., Kaya’nya bagi saipul jamil, kiki fatmala, dewi persik, inul, maia estianty, ahmad dhani, & Julia perz membuat sensasi adalah hal wajar,. kalo ada istilah talkless do more tapi buat mereka kowar2 nomer satu daripada prestasi,.

    OOT= silakan main ke blog saya,, :)

  11. gwgw says:

    pelecehan seksual…..akhirnya ketahuan jg kan….:-)
    btw, salam kenyal deh

  12. Jiewa says:

    Capek banget ya ngikutin beritanya si Ipul itu.. ada aja beritanya. Btw, terlepas dari kasus pelecehan ini.. parah banget film indo kok harus pake adegan pijet2an gitu. Sigh..

  13. deteksi says:

    wah kamu kok menjelekkan KULI BANGUNAN? kesannya kok jelek banget di matamu KULI BANGUNAN itu?

    kalo ndak ada KULI BANGUNAN maka apa yang kamu rancang TIDAK AKAN TERWUJUD. percuma aja ada ARSITEK kalo ndak ada KULI BANGUNAN

    MASALAH PELECEHAN:
    cewek dengan penampilan sopan, baju tertutup dan tidak menonjolkan lekuk tubuh, tidak mengumbar benjolan di dada, tidak pakai legging, akan lebih terhindar dari pelecehan.

    jangan menyalahkan orang yang melecehkan kalo penampilan bikin orang gatel pengen melecehkan.

    kalo sengaja pake baju terbuka maka jangan marah kalo ada yang memelototi tubuh terbuka itu.

    KEMBALI KE KULI BANGUNAN
    gimana kalo misal ada KULI BANGUNAN yang baca tulisan ini? atau ada anaknya KULI BANGUNAN yang baca ini? atau gimana kalo seandainya orang tuamu sendiri yang KULI BANGUNAN?

  14. admin says:

    OOT= silakan main ke blog saya,,

    okeh deh meluncuuur.. ^^

  15. admin says:

    KEMBALI KE KULI BANGUNAN

    hehe,, jadi salah paham gini yah..mungkin emang terlalu kelewatan kalau saya ambil contoh kuli bangunan. Padahal yang saya maksud disini bukanlah subjek tetapi label yang melekat pada suatu profesi. Toh saya juga termasuk kuli bangunan, wong saya kerjanya bikin bangunan..kongkownya di baliwerty, toko bahan bangunan. Labebl ini juga sama seperti yang melekat pada profesi lain. Misalnya kyai berlabel “alim”, artis berlabel “suka cari sensasi” atau mahasiswa berlabel “manusia intelek”. Terlepas dari masih adanya kyai “nakal”, artis yang alim, atau mahasiswa yang pencopet, atau kuli bangunan “yang intelek”.

    Mungkin ini juga terkait dengan tingkat edukasi, misalnya ada cewek pakai rok mini lewat depan para kuli yang satu lagi lewat depan kampus. Tentu akan terjadi perlakuan yang berbeda terhadap si cewek ber rok mini. Para kuli bangunan mungkin akan berteriak-teriak memanggil, sedangkan para mahasiswa akan berpikir bagaimana mendekati si cewek ini. Soal hal ini deal to mas..hehe,,Nah kalau ada mahasiswa yang teriak-teriak, maka jangan disalahkan jika ada yang komentar “ih, kok gag berpendidikan”..heheh..gitu lho maksud saya…

    selain itu juga saat ini sudah tidak relevan jika pelaku pelecehan identik dengan pria, dan korban pelecehan identik dengan wanita, baik itu dalam hal pelecehan seksual maupun jenis pelecehan lain.

    disini, kasus “jamilisme” semoga bisa jadi pelajaran buat kita. Terlepas juga pelecehan ini ternyata korban dan pelaku suka sama suka… hehehe

    dont try that at home ^^

  16. aribicara says:

    Waduw, kalau yg beginian aku ga ikut2an comment ach :D ckckck …

    Tapi memangnya itu beneran aych ? Ckckckck ..

    Salam :)

  17. kacrut says:

    hehehehhe..

    si ipul emang muka nya pengen mulu..

    pengen digampar kayaknya.. wakakkaka….

    harusnya ada pemeran pengganti kali yah.. wekekkekeke

  18. Supermance says:

    heuheuhe, masa bang ipul bilangnya :

    “ya emang Allah kasih saya rejekinya lewat peran pemijet plus-plus kaya gini, ya saya syukuri aja”

    d’oh ?!?! ( versi homer simpson )

  19. mas stein says:

    pelecehan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan :lol:

    tapi kalo kiki sama ipul saya ndak yakin itu pelecehan mbak, liat videonya kayak akting murahan, mungkin buat mbikin sensasi aja, promosi. mungkin lho ya…

    hehehe..jangan-jangan saya ini sutradaranya yang berusaha mromosiin tuw pilm..

  20. I found your blog on google and read a few of your other posts. I just added you to my Google News Reader. Keep up the good work. Look forward to reading more from you in the future.

    ^.^

  21. Keep up the great writing.

  22. MARY says:

    Love your blog. Will be coming back quite a bit.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: Free MMORPG | Thanks to MMORPG List, VPS Hosting and Video Hosting
snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake