Kampung 1001 malam

dsc00219

Hari ini saya memperoleh pengalaman sangat berharga. Kebetulan saya berkesempatan mengikuti bakti sosial yang dilakukan oleh bu R. Ibu R berniat membagi susu formula untuk bayi dan balita penduduk bawah kolong jembatan.

Semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan penghidupan yang layak.

Lalu dimanakah hak mereka mendapatkan penghidupan layak?

kumuh1

Tinggal dibawah jembatan tol, dipinggir sungai, dengan ruang-ruang yang terbagi atas bedak-bedak dari papan dengan tinggi ruangan kurang lebih 1,5 meter.

Permasalahan rakyat kurang mampu ini merupakan kesalahan yang multikompleks. Pemerintah dianggap bersalah karena tidak mampu memberikan penghidupan yang lebih layak. Di sisi lain mereka sendiri juga bersalah karena mendirikan bangunan diarea yang dilarang.

Yang membuat saya sedikit malu, volunteer dari kegiatan pembibingan masyarakat bawah jembatan ini adalah seorang wanita bule berkebangsaan Swiss bernama Bu Elizabeth.

Yang lebih perhatian ternyata bukan dari bangsa sendiri. Bu Elizabeth ini memperikan ketrampilan menyulam untuk ibu-ibu sekitar yang berprofesi sebagai pemulung.

sulaman

Pekerjaan menjadi prioritas utama untuk mereka. Bahkan anak-anak yang seharusnya menikmati bangkku pendidikan terpaksa menjadi pengamen dan pengemis untuk membantu menambah pemasukan keluarga.

Apakah slogan wajib belajar 9 tahun tidak berlaku bagi mereka?

Namun hal ini tidak hanya karena orangtua tidak mampu membayar biaya sekolah anaknya, tetapi terkadang kesempatan sekolah gratis pun mereka lewatkan hanya agar anaknya bisa ikut bekerja dengan mereka.

Menurut saya kesimpulan dari permasalahan mereka adalah pendidikan. Pendidikan tidak hanya berguna untuk mencari pekerjaan kelak. Yang lebih penting adalah pendidikan berguna untuk membantu kita menjalani peran kita di kehidupan ini.

anak

Believe or not, nama kampung ini kampung 1001 malam. ^^

You can leave a response, or trackback from your own site.

16 Responses to “Kampung 1001 malam”

  1. Kayaknya pas banget nama kampung tersebut… coz aku merasa bahwa di kampung tersebut ada 1001 impian untuk bisa hidup layak… gitu gak mbak???

    iya setuja sekaleee….

  2. .
    Bu R ituh apaa…???

    ***ndak ngerti***

  3. Faris says:

    Disaat melihat fenomena seperti ini terkadang manusia aka kita semua “sejenak” menyadari seberapa beruntungnya kita semua saat ini . . .
    tapi harusnya ga cukup cuma sadar, apalagi cuma sejenak !!!!!!
    Do something real guys . . .
    they’re also our brother & sister

    iya mas..sedih banged liatnya..btw setelah sekian lama cuma jadi pembaca, akhirnya komen juga,,makasih ya mas..heheh

  4. LuxsMAn says:

    Inisial R sekarang sedang rame-ramenya…….

    Bisa yang punya BLOG Risdania, atau Rani Juliani…

    oiya…mbak Rani juga lagi rame… -.-” jadi caddy ah..bida tenar..hihi

  5. mas stein says:

    kemiskinan sama pendidikan itu udah kayak lingkaran setan, karna miskin ndak bisa sekolah, karna ndak sekolah wawasan ndak berkembang, wawasan ndak berkembang akhirnya ndak bisa keluar dari kemiskinan, yo wis muter-muter aja. duh pecas ndahe, mumet…

    bener banged mas..saling berkaitan sebab akibat yang mbulet..ikz

  6. ceznez says:

    setujuh ama mba… karena pendidikan jga social elevator.. bukan cuma buat naikin jabatan tapi jga mempermudah menjalani hidup yach.. :D

    iya..gag peduli kamu uda sukses atau belum..pendidikan itu penting…

  7. Arif Giyanto says:

    Everyone have their chance to shine….

    cuma gag semua orang bisa mengasah dirinya agar lebih bersinar lagi ^^

  8. Ris… gak cuma bu Elisabeth koq yang perduli…
    Banyak anak bangsa juga, di gereja saya, kami membuat program belajar gratis mengajari mereka.
    Dan juga penambahan gizi dengan memberikan susu.

    Tapi soal penghidupan yang layak… yah sementara pemerintahan kita masih belum mampu memberikannya untuk semua warga negara, berarti itu tugas kita untuk ikut berperan aktif :)

    Yuks kita bahu membahu ambil bagian :)

    iya,,semoga gag cuma sebatas kasihan aja..semoga ada langkah yang dapat kita lakukan..

  9. -GoenRock- says:

    Bu R itu Bu Risdania? :roll:

    Wadhuh, yang jadi volunteernya malah bule? :shock:

    bukan mas..aq masih gadis,,belum ibu-ibu..hihihihi

  10. Santi says:

    blog walking Bu R.. baru tau saya ada nama kampung 1001 malam.. :)

    saya bukan bu R mbak Santi,,,saya Mbak R..hehehe

  11. ahmad says:

    memprihatinkan emang. mungkin gak mbak membujuk mereka untuk transmigrasi. kbetulan saya tinggal di aceh. di sini lahan masih sangat luas. lapangan pekerjaan terbuka lebar. asal mau bekerja keras insya Allah bisa hidup lebih baik. btw disini dah aman banget loh… hehe.
    salam kenal mbak

    nah, seharusnya ini solusi bagus,,selain memeratakan pembangunan dan populasi manusia juga sebagai balancing kepadatan penduduk di kota..

  12. memang pendidikan sekarang ini tidak laghee mengutamakan tujuan dari pendidikan itu sendir, lebih banyak bersifat komersil aja…..jadheee yah mungkin untuk lulusnya aja hanya sekedar lulus..

    padahal klo cuma butuh lulus,,tinggal beli ijazah palsu aja.. -.-”

  13. Raffaell says:

    Berarti kampung ini berasal dari bagdad dong ?

    iya..pake lampu ajaib juga..hehe

  14. wah kok ada yang sebut2 nama saya di sini ya..

    ah hanya perasaan mbak saja…

  15. Ade says:

    Waa.. saya juga mau dong belajar nyulam :-)

    bagus-bagus banged deh mbak hasilnya…

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: Free MMORPG | Thanks to MMORPG List, VPS Hosting and Video Hosting
snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake